Jikakita sadari dalam batin bahwa itu adalah perbuatan Allah melalui tangan hambaNya, maka itulah Dzikir Af'al. Yakni melihat, menyadari, dan menyaksikan perbuatan Allah atas segala apapun. Contohnya lagi, ketika ada seorang pengemis yang datang kepada kita.
AllahSWT berfirman yang tertuang di dalam Al-Quran surat Al-Imran ayat 103: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang
Salahsatu contoh adalah Allah menciptakan nyamuk, dan nyamuk diciptakan hanya untuk berbuat jahat yaitu menghisap darah. Tapi walaupun hanya menghisap darah, nyamuk tetap mempunyai manfaat.
Jikaaf'alul khomsah dimasuki huruf nashob, maka dibuang nun akhirnya. Contohnya: اَنْ يَفْعَلَا, اَنْ تَفْعَلَا, اَنْ يَفْعَلُوْا, اَنْ تَفْعَلُوْا, اَنْ تَفْعَلِيْ Contohnya di dalam Al Quran, ada di bawah ya. Mengapa Fi'il Mudhari Menjadi Manshub? Fiil mudhari menjadi manshub, karena dimasuki oleh amil nawashib.
AFALULLAH • Perbuatan Allah. • Setiap kejadian yang berlaku di alam ini dengan kehendak dan iradat Allah. • Contoh: Siang dan malam, bencana alam. 3.
Berarti 1). Sifat-sifat Allah SWT itu adalah satu-satu, seperti sifat Ilmu ada satu, sifat Qudrah satu, sifat Iradah satu, dan seterusnya. Sebagai contoh, sifat Ilmu: Allah SWT mengetahui apa saja adalah dengan sifat Ilmu yang satu. Hal ini berbeda dengan manusia. Kalau manusia, maka mengetahui "Zaidun qá'imun" dengan rincian "Zaid
.
Apakah itu Af’al al-Qulub? Pernahkah anda mendengar istilah Af’al al-Qulub dalam ilmu Nahwu? Dari namanya kita bisa menebak bahwa ia adalah fi’il yang berhubungan dengan hati, tapi apa sebenarnya af’al al-qulub itu? Pengertian Af’al al-Qulub Af’al al-Qulub berasal dari kata af’al pekerjaan-pekerjaan dan al-qulub beberapa hati. Ia merupakan fi’il yang dilakukan dan dirasakan oleh indra bathin hati yang me-nashab-kan dua maf’ul yang berasal dari susunan mubtada’ khabar. BACA JUGA FI’IL MUTA’ADDI DAN FI’IL LAZIM Af’al al-Qulub berjumlah 14, di antaranya adalah رَأَى ,عَلِمَ ,دَرَى ,وَجَدَ ,أَلْفَى ,تَعَلَّمْ ,ظَنَّ ,خَالَ ,حَسِبَ ,جَعَلَ ,حَجَا ,عَدَّ ,زَعَمَ ,هَبْ Fi’il-fi’il ini disebut sebagai “Af’al al-Qulub” karena ia merupakan pekerjaan yang dilakukan dan dirasakan oleh indra bathin, maka dari itu, makna-maknanya berada pada hati al-qulub. Namun tidak semua fi’il qalbiy yang berhubungan dengan hati me-nashab-kan dua maf’ul, melainkan di antaranya ada yang me-nashab-kan satu maf’ul seperti عَرَفَ dan فَهِمَ tahu dan paham. Dan adapula yang berhukum lazim tidak memiliki maf’ul seperti حَزُنَ dan جَبُنَ sedih dan takut. Adapun yang dimaksud dengan asal maf’ul merupakan mubtada’ khabar bisa kita lihat pada contoh di bawah ini ظَنَنْتُ زَيْدًا مُسَافِرًا Aku mengira Zaid adalah orang bepergian Contoh di atas berasal dari susunan mubtada’ khobar berikut زَيْدٌ مُسَافِرٌ Zaid adalah orang yang bepergian Menghapus kedua atau salah satu maf’ul Af’al al-Qulub Tidak boleh menghapus kedua maf’ul atau salah satu maf’ul af’al al-qulub dengan alasan iqtishar merasa cukup, dalam artian tanpa dalil. Namun jika ada dalil dengan alasan ikhtishar, yakni meringkas, maka boleh menghapus kedua maf’ul atau salah satunya. Contoh terhapusnya dua maf’ul karena ada dalil adalah sebagai berikut Ketika ada yang bertanya هَلْ ظَنَنْتَ خَالِدًا مُسَافِرًا؟ Apakah kamu mengira khalid adalah orang yang bepergian? Kemudian yang ditanya menjawab ظَنَنْتُ Aku telah mengira Maksudnya adalah ظَنَنْتُهُ مُسَافِرًا Aku telah mengiranya khalid orang yang bepergian Ada juga contoh dari al-Qur’an أَيْنَ شُرَكَاءِيَ الَّذِيْنَ كُنْتُمْ تَزْعُمُوْنَ – القصص 62 Artinya Di mana sekutu-sekutuKu yang engkau yakini اي كُنْتُمْ تَزْعُمُوْنَهُمْ شُرَكَاءِيْ Maksudnya kamu yakin mereka sekutu-sekutuKu Dan contoh dari kata-kata bijak مَنْ يَسْمَعْ يَخَلْ Barangsiapa mendengar maka menyangka اي يَخَلْ مَا يَسْمَعُهُ حَقًّا Maksudnya menyangka apa yang ia dengar sebagai kebenaran Sedangkan contoh terhapusnya satu maf’ul karena ada dalil sebagai berikut Ketika ada yang bertanya هَلْ تَظُنُّ أَحَدًا مُسَافِرًا؟ Apakah kamu mengira seseorang adalah orang yang bepergian? Kemudian seseorang menjawab أَظُنُّ خَالِدًا Aku mengira Khalid اي أَظُنُّ خَالِدًا مُسَافِرًا Maksudnya Aku mengira Khalid adalah orang yang bepergian Namun jika tidak ada dalil yang menunjukkan pada maf’ul yang terhapus maka tidak diperbolehkan menghapus kedua maf’ul atau salah satunya. Inilah pendapat shahih dari beberapa madzhab ulama’ nahwu. Macam-macam Af’al al-Qulub Kemudian, af’al al-qulub dibagi menjadi dua macam Pertama, af’al al-yaqin أفعال اليقين, yang menunjukkan pada keyakinan kepercayaan yang mantap. Kedua, af’al adh-dhann أفعال الظنّ, yang menunjukkan pada dugaan cenderung/condong pada salah satu kemungkinan. Af’al al-Yaqin أفعال اليقين Af’al al-yaqin أفعال اليقين ada 6, yaitu رَأَىعَلِمَدَرَىتَعَلَّمْوَجَدَأَلْفَى Adapun penjelasannya sebagai berikut 1. رَأَى رَأَى yang bermakna عَلِمَ وَاعْتَقَدَ tahu dan meyakini نحو رَأَيْتُ زَيْدًا مُعَلِّمًا Aku tahu dan yakin bahwa Zaid adalah seorang guru Tidak ada perbedaan antara keyakinan yang sesuai dengan kenyataan dan keyakinan yang berdasar atas kepercayaan yang mantap saja, walaupun keyakinan tersebut berbeda dengan kenyataan. Karena keyakinan itu dinisbatkan/dikembalikan kepada orang yang memiliki keyakinan tersebut. Sebagaimana contoh dalam al-Qur’an. إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيْدًا وَنَرٰىهُ قَرِيْبًا – المعارج ٧-٦ Artinya Sesungguhnya mereka orang-orang kafir meyakininya ba’ts/kebangkitan jauh tercegah dan kita meyakininya ba’ts dekat terjadi/nyata. رَأَى yang bermakna selain عَلِمَ وَاعْتَقَدَ رَأَى yang bermakna الْحِلْمِيَّة bermimpi juga me-nashab-kan dua maf’ul. رَأَى ini memiliki mashdar الرُّأْيَا mimpi/penglihatan saat tidur dan me-nashab-kan dua maf’ul karena juga termasuk pekerjaan yang dilakukan dan dirasakan oleh indra bathin. Contohnya sebagai berikut إِنِّيْ أَرٰىنِيْ أَعْصِرُ خَمْرًا – يوسف ٣٦ Artinya Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku memeras khamr Maf’ul yang pertama pada contoh ayat tersebut adalah ya’ mutakallim dan maf’ul keduanya adalah jumlah “أَعْصِرُ خَمْرًا” Namun jika رَأَى adalah بَصَرِيَّة yang bermakna “أًبْصَرَ وَرَأَى بِعَيْنِهِ melihat dengan matanya”, maka ia hanya muta’addi pada satu maf’ul. نحو رَأَيْتُ زَيْدًا Aku telah melihat Zaid رَأَى yang bermakna “إِصَابَةُ الرِّئَةِ” mengenai paru-paru juga muta’addi pada satu maf’ul. نحو ضَرَبَهُ فَرَأَىهُ Aku memukulnya lalu aku mengenai paru-paru-nya 2. عَلِمَ عَلِمَ yang bermakna اعْتَقَدَ yakin muta’addi sampai dua maf’ul. نحو فَإِنْ عَلِمْتُمُوْهُنَّ مُؤْمِنٰتٍ – الممتحنة ١٠ Artinya “Lalu jika kalian yakin bahwa mereka perempuan-perempuan berhijrah adalah orang-orang beriman…” عَلِمَ yang bermakna selain اعْتَقَدَ Apabila عَلِمَ bermakna عَرَفَ mengerti maka ia hanya muta’addi sampai dengan satu maf’ul. نحو عَلِمْتُ الْأَمْرَ Aku telah mengetahui perkara tersebut وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ أُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْئًا – النحل ٧٨ Artinya “Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dengan keadaan kalian tidak mengetahui sesuatu” Dan apabila عَلِمَ bermakna شَعَرَ , أَحَاطَ , أَدْرَكَ merasa, meliputi, dan menyampaikan maka ia muta’addi sampai satu maf’ul dengan dirinya sendiri atau dengan perantara huruf ب ba’. نحو عَلِمْتُ الشَّيْئَ / عَلِمْتُ بِالشَّيْئِ Aku telah merasakan sesuatu 3. دَرَى دَرَى yang bermakna عَلِمَ عِلْمَ اعْتِقَادٍ mengetahui dengan pengetahuan keyakinan me-nashab-kan dua maf’ul sebagaimana contoh berikut دَرَيْتُكَ مُجْتَهِدٌ Aku telah mengetahui dengan pengetahuan keyakinan bahwa kamu adalah orang yang rajin Atau bisa kita lihat pada contoh syiir bahar thawil berikut دُرِيْتَ الْوَفِيَّ الْعَهْدَ يَا عَمْرُو فَاغْتَبِطْ فَإِنَّ اغْتِبَاطًا بِالْوَفَاءِ حَمِيْدُ Artinya Telah diketahui dengan pengetahuan keyakinan bahwa engkau adalah orang yang menepati janji Wahai Amr, maka bergembiralah! Sesungguhnya bergembira sebab memenuhi janji itu terpuji Catatan Pada syair tersebut memang “دَرَى” bentuknya bina’ majhul sehingga “تَ” pada “دُرِيْتَ” adalah maf’ul pertama yang berdiri sebagai naib fa’il dan “الْوَفِيَّ” adalah maf’ul kedua yang berdiri sebagai maf’ul pertama. Namun yang sering kali dilakukan pada penggunaan “دَرَى” adalah ia muta’addi kepada satu maf’ul dengan perantara huruf ba’, misalnya دَرَيْتُ بِالشَّيْءِ aku mengetahui sesuatu. دَرَى dengan makna lain Namun apabila دَرَى bermakna “خَتَلَ” memperdaya, maka ia muta’addi sampai satu maf’ul saja, misal دَرَيْتُ الصَّيْدَ aku telah memperdaya binatang buruan. Dan apabila دَرَى bermakna “حَكَّ” menggaruk/menyisir, maka ia juga muta’addi sampai satu maf’ul saja. Misalnya دَرَيْتُ رَأْسِيْ بِالْمِدْرَى aku telah menyisir kepalaku dengan sisir. 4. تَعَلَّمْ تَعَلَّمْ yang bermakna اعْلَمْ وَاعْتَقِدْ ketahuilah dan yakinlah! muta’addi sampai dua maf’ul. Sebagaimana pada syi’ir bahar thawil berikut نحو تَعَلَّمْ شِفَاءَ النَّفْسِ قَهْرَ عَدُوِّهَا فَبَالِغْ بِلُطْفٍ فِي التَّحَيُّلِ وَالْمَكْرِ Yakinlah! sembuhnya hati itu menundukkan musuhnya Maka sampaikanlah dengan lembut dalam siasat dan muslihat Namun penggunaan تَعَلَّمْ dengan diikuti “أَنَّ وَصِلَتُهَا” anna dan shilah/jumlah yang terhubung dengannya lebih banyak dan lebih masyhur. Misalnya pada syiir bahar wafir berikut تَعَلَّمْ أَنَّ خَيْرَ النَّاسِ مَيْتٌ عَلَى جِفْرِ الْهَبَاءَةِ لَا يَرِيْمُ Yakinlah sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah orang mati Yang tidak meninggalkan Jifr al-Haba’ah rawa di Negara Ghathfan تَعَلَّمْ dengan makna lain Apabila تَعَلَّمْ merupakan amr/perintah dari fiil “تَعَلَّمَ يَتَعَلَّمُ” belajar maka ia hanya muta’addi sampai satu maf’ul saja. نحو تَعَلَّمُوْا الْعَرَبِيَّةَ وَعَلِّمُوْهَا النَّاسَ Belajarlah Bahasa Arab dan ajarkanlah Bahasa Arab tersebut kepada manusia! 5. وَجَدَ وَجَدَ yang bermakna عَلِمَ وَاعْتَقَدَ tahu dan yakin muta’addi sampai dua maf’ul. Sedangkan mashdar dari fi’il ini adalah الْوُجُوْدُ وَالْوِجْدَانُ . نحو وَجَدْتُ الصِّدْقَ زِيْنَةَ الْعُقَلَاءِ Aku yakin dengan pengetahuan keyakinan bahwa kejujuran adalah perhiasan orang-orang yang berakal وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفٰسِقِيْنَ – الأعراف ١٠٢ Sesungguhnya Kami yakin bahwa kebanyakan dari mereka sungguh orang-orang fasiq وجد dengan makna lain وجد dengan makna lain dengan makna di atas pengetahuan keyakinan tidak termasuk af’al al-qulub. Contohnya seperti Bermakna “mengenai dan mendapatkan sesuatu setelah kehilangannya” وَجَدْتُ الْكِتَابَ وُجُوْدًا وَوِجْدَانًا Aku menemukan kitab dengan sebenar-benarnya penemuan Bermakna “dendam dan marah” وَجَدَ عَلَيْهِ مَوْجِدَةً Aku marah padanya dengan sebenar-benarnya marah إِنِّيْ سَائِلُكَ فَلَا تَجِدْ عَلَيَّ Sesungguhnya aku adalah orang yang bertanya padamu maka janganlah engkau marah padaku Bermakna “sedih” atau “suka” وَجَدَ بِهِ وَجْدًا Aku sedih padanya dengan sebenar-benarnya sedih وَجَدَ بِهِ وَجْدًا Aku suka dengannya dengan sebenar-benarnya suka Bermakna “merasa cukup” وَجَدَ جِدَةً Aku merasa cukup dengan sebenar-benarnya rasa cukup 6. أَلْفَى أَلْفَى yang bermakna عَلِمَ وَاعْتَقَدَ tahu dan yakin muta’addi sampai dua maf’ul. نحو أَلْفَيْتُ قَوْلَكَ صَوَابًا Aku yakin bahwa ucapanmu benar أَلْفَى dengan makna lain Apabila أَلْفَى bermakna “menemukan” أصاب الشيء وظفر به maka ia hanya muta’addi sampai satu maf’ul saja. نحو أَلْفَيْتُ الْكِتَابَ Aku menemukan kitab وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَا الْبَابِ – يوسف ٢٥ Dan mereka berdua mendapati tuan/suami wanita tersebut di depan pintu Af’al adh-Dhann أَفْعَالُ الظَّنِّ Af’al adh-Dhann merupakan fi’il-fi’il yang menunjukkan makna dugaan yakni kecenderungan pada salah satu kemungkinan. Dan af’al adh-dhann terdapat dua macam, yakni Macam Pertama, yang bermakna dua yakni dugaan dan yakin, namun kebanyakan bermakna dugaan. Seperti ظَنَّ , خَالَ , حَسِبَ Macam Kedua, yang bermakna dugaan saja. Seperti جَعَلَ , حَجَا , عَدَّ , زَعَمَ , هَبْ Macam Pertama Terdapat tiga fiil pada macam ini, antara lain 1. ظَنَّ ظَنَّ merupakan fiil yang menunjukkan kecenderungan pada salah satu kemungkinan. نحو ظَنَنْتُكَ مُسْلِمًا Aku mengira engkau adalah orang Islam Terkadang ظَنَّ menunjukkan makna yakin, misalnya الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُمْ مُلَاقُوْا رَبِّهِمْ – البقرة ٤٦ Yaitu orang-orang yang telah yakin bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bertemu dengan Tuhannya وَظَنُّوْا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللهِ إِلَّا إِلَيْهِ – التوبة ۱۱۸ Dan mereka telah mengetahui/meyakini bahwasanya tidak ada tempat berlari dari siksa Allah kecuali hanya kepada Allah Namun apabila ظَنَّ bermakna اتَّهَمَ menuduh maka ia hanya muta’addi sampai satu maf’ul saja. نحو ظَنَّ الْقَاضِيُ فُلَانًا Seorang hakim telah menuduh si anu 2. خَالَ خَالَ maknanya sama dengan ظَنَّ yang menunjukkan kecenderungan. نحو خَالَ زَيْدٌ بَكْرًا مُعَلِّمًا Zaid telah menduga Bakr adalah guru Dan terkadang خَالَ menunjukkan makna yakin, seperti pada syiir bahar thawil berikut دَعَانِي الْغَوَانِي عَمَّهُنَّ وَخِلْتُنِيْ لِيَ اسْمٌ فَلَا أُدْعَى بِهِ وَهُوَ أَوَّلُ Orang-orang kaya memanggilku sebagai paman mereka dan engkau yakin bahwa aku mempunyai nama, lalu bukankah aku dipanggil dengan nama tersebut yang aku punya itu lebih utama? خِلْتُنِيْ لِيَ اسْمٌ Ya’ mutakallim pada خِلْتُنِيْ لِيَ اسْمٌ merupakan maf’ul pertama dan jumlah “لِيَ اسْمٌ” menempati tempat nashab sebagai maf’ul kedua. 3. حَسِبَ حَسِبَ mempunyai makna yang sama dengan ظَنَّ yang menunjukkan kecenderungan. نحو يَحْسَبُهُمْ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ – البقرة ۲۷۳ Orang yang bodoh menduga bahwa mereka orang-orang kaya sebab memelihara diri dari meminta-minta وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُوْدٌ – الكهف ۱۸ Dan kamu mengira bahwa mereka terjaga sedangkan mereka itu tidur Terkadang حَسِبَ menunjukkan makna keyakinan seperti halnya contoh pada bahar thawil berikut حَسِبْتُ التُّقَى وَالْجُوْدَ خَيْرَ تِجَارَةٍ رَبَاحًا إِذَا مَا الْمَرْءُ أَصْبَحَ ثَاقِلًا Aku yakin bahwa ketaqwaan dan kedermawanan adalah sebaik-baik perdagangan yakni keuntungannya ketika seseorang menjadi berat/sakaratul maut Macam kedua Terdapat lima fiil pada macam ini yakni af’al adh-dhann yang hanya menunjukkan makna dugaan, antara lain 1. جَعَلَ جَعَلَ dengan makna ظَنَّ atau “menduga” me-nashab-kan dua maf’ul نحو وَ جَعَلُوْا الْمَلٰئِكَةَ الَّذِيْنَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمٰنِ إِنَاثًا – الزخرف ۱۹ Artinya “Dan mereka menduga bahwa malaikat-malaikat yaitu hamba-hamba Allah adalah perempuan”. جَعَلَ dengan makna lain Apabila جَعَلَ bermakna أَوْجَدَ mewujudkan/menciptakan atau أَوْجَبَ menjaga/memperhatikan maka ia hanya muta’addi sampai satu maf’ul saja. نحو وَجَعَلَ الظُّلُمٰتِ وَالنُّوْرَ – الأنعام ١ Dan Allah menciptakan kegelapan-kegelapan dan cahaya اجْعَلْ لِنَشْرِ الْعِلْمِ نَصِيْبًا مِنْ مَالِكٍ Perhatikanlah bagian dari raja untuk penyebaran ilmu Selanjutnya, apabila جَعَلَ bermakna صَيَّرَ merubah maka ia termasuk pada af’al at-tahwil yang menashabkan dua maf’ul. Pembahasan mengenai af’al at-tahwil akan dibahas pada postingan selanjutnya. Lalu apabila جَعَلَ bermakna أَنْشَأَ mulai maka ia termasuk fiil muqarabah/fiil naqish yang menunjukkan makna “memulai dalam melakukan sesuatu”. جَعَلَ زَيْدٌ يَمْشِيْ Zaid mulai berjalan 2. حَجَا حَجَا dengan makna ظَنَّ atau “menduga” me-nashab-kan dua maf’ul حَجَوْتُ أَبَاكَ صَائِمًا Aku mengira ayahmu adalah orang yang berpuasa حَجَا dengan makna lain حَجَا hanya muta’addi sampai satu maf’ul apabila mempunyai makna-makna sebagaimana berikut Mengalahkan dalam teka-teki حَاجَيْتُهُ فَحَجَوْتُهُ Aku telah memberi teka-teki padanya lalu aku mengalahkannya dalam teka-teki Menolak/mencegah حَجَوْتُ زَيْدًا Aku telah mencegah Zaid Menyembunyikan/merahasiakan/menjaga حَجَوْتُ السِّرَّ Aku telah menyembunyikan/menjaga rahasia Menjalankan/mendorong حَجَتِ الرِّيْحُ سَفِيْنَةً Angin telah mendorong kapal Dan حَجَا berhukum lazim/tidak memiliki maf’ul apabila mempunyai makna sebagai berikut Mendiami/tinggal حَجَا بِالْمَسْجِدِ Ia mendiami/tinggal di masjid Kikir/terlampau hemat حَجَا بِالشَّيْءِ Ia terlampau hemat pada sesuatu 3. عَدَّ عَدَّ dengan makna ظَنَّ atau “menduga” me-nashab-kan dua maf’ul. Sebagaimana contoh pada syi’ir bahar thawil berikut نحو فَلَا تَعْدُدِ الْمَوْلٰى شَرِيْكَكَ فِي الْغِنَى وَلٰكِنَّمَا الْمَوْلٰى شَرِيْكُكَ فِي الْعُدْمِ Maka jangan kau kira anak paman adalah temanmu dalam kekayaan Akan tetapi anak paman adalah temanmu dalam kefakiran عَدَّ dengan makna lain Apabila عَدَّ bermakna “menghitung” maka ia hanya muta’addi sampai satu maf’ul. نحو عَدَدْتُ الدَّرَاهِمَ Aku telah menghitung beberapa dirham 4. زَعَمَ زَعَمَ dengan makna ظَنَّ ظَنًّا رَاجِحًا “menyangka dengan sangkaan yang kuat” me-nashab-kan dua maf’ul. Sebagaimana contoh syi’ir bahar khafif berikut زَعَمْتَنِيْ شَيْخًا وَلَسْتُ بِشَيْخٍ إِنَّمَا الشَّيْخُ مَنْ يَدِبُّ دَبِيْبًا Kau menduga diriku adalah syaikh orang yang sudah tua, sedangkan diriku bukanlah syaikh Syaikh itu tidak lain adalah orang yang merangkak dengan sebenar-benarnya merangkak زَعَمَ dengan makna lain Namun secara umum penggunaan زَعَمَ lebih sering digunakan untuk menunjukkan makna dugaan yang salah, زَعَمَ mengungkapkan ucapan yang diduga sebagai kebohongan. Maka dari itu زَعَمَ digunakan dalam hal yang di dalamnya terdapat kebimbangan atau hal yang sudah diyakini kebohongannya. Orang arab biasanya berkata “زَعَمُوْا كَذَا وَ كَذَا” Orang arab berkata bla bla bla. Dalam artian ”bla bla bla” tersebut adalah perkataan yang bohong. Terkadang pula زَعَمَ bermakna “berkata” saja, tanpa embel-embel bahwa perkataan tersebut adalah kebohongan, dugaan, atau kebimbangan. Apabila زَعَمَ bermakna “memimpin” تَأَمَّرَ وَرَأَّسَ atau “menanggung“ كَفَلَ بِهِ maka ia hanya muta’addi sampai satu maf’ul saja dan dengan perantara huruf jarr. زَعَمَ عَلَى الْقَوْمِ Ia telah memimpin kaum زَعَمَ بِالْمَالِ Ia telah menanggung harta Dan زَعَمَ yang bermakna “lezat/enak” berhukum lazim. زَعَمَ اللَّبَنُ Susu tsb enak 5. هَبْ هَبْ yang berbentuk perintah “fi’il amr” dengan makna “dugalah!” me-nashab-kan dua maf’ul. Sebagaimana contoh pada syi’ir bahar mutaqarib berikut فَقُلْتُ أَجِرْنِيْ أَبَا خَالِدٍ وَإِلَّا فَهَبْنِيْ امْرَءًا هَالِكًا Kemudian aku berkata “Tolonglah aku wahai Abu Kholid, dan jika tidak maka dugalah aku sebagai orang yang hancur” هَبْ dengan makna lain Apabila هَبْ bermakna “berikanlah!” berasal dari هِبَةً maka ia tidak termasuk af’al al-qulub walaupun ia muta’addi sampai dua maf’ul. Karena kedua maf’ul-nya bukan berasal dari mubtada’ khobar. هَبِ الْفُقَرَاءَ مَالًا Berilah orang-orang faqir harta! Menurut lughah yang fashih pada contoh di atas, هَبْ bermakna “berikanlah!” muta’addi kepada maf’ul pertama dengan bantuan lam’. هَبْ لِلْفُقَرَاءَ مَالًا Berilah harta kepada orang-orang faqir! Namun apabila هَبْ bermakna “takutlah!” berasal dari هَيْبَةً maka ia hanya muta’addi sampai satu maf’ul saja. هَبْ رَبَّكَ Takutlah pada Tuhanmu! Kesimpulan Af’al al-qulub ada 14 jumlahnya yaitu رَأَىعَلِمَدَرَىوَجَدَأَلْفَىتَعَلَّمْظَنَّخَالَحَسِبَجَعَلَحَجَاعَدَّزَعَمَهَبْ Dimana dari angka 1-6 adalah af’al al-yaqin, dan dari angka 7-14 merupakan af’al al-dhann. Namun 7, 8, dan 9 terkadang menunjukkan makna yakin. Demikian pembahasan af-al al-qulub semoga bermanfaat.
4 Februari 2009 at 1211 PM Menurut Muhammad Abduh, bahwa “At-tauhid huwa wahdaniyatullah fi al-zat wa al-sifat wa al-af’al wa al-ibadah wama siwazaalik”, artinya, “Tauhid itu adalah meng-esakan Allah dalam zat, dalam sifat, dalam perbuatan, dalam ibadah, dalam pujian, dalam pemeliharaan, dan dalam hal-hal lain.” Perbuatan-perbuatan Allah adalah sesuatu yang unik, yang hanya itu saja, dan tidak ada yang lain dapat menyamai apa yang dilakukan Allah. Artinya, perbuatan Allah adalah sesuatu yang hanya dapat dilakukan Allah tanpa ada sesuatu lain yang dapat menyamai ataupun menirukan apa yang dilakukan Allah Swt. Perbuatan-perbuatan Allah ini ditujukan semuanya dalam rangka sifat Maha Rahman dan Maha Rahim yang tujuannya untuk kebaikan makhluk-Nya, terutama untuk makhluk-Nya yang paling unggul, yaitu manusia. Sehingga dengan demikian sebenarnya, apa yang dilakukan Allah Swt itu sesungguhnya ditujukan untuk kebaikan manusia sendiri. Karena itulah, Allah Swt mengisyaratkan bahwa apa yang dilakukan untuk manusia itu merupakan sesuatu yang pasti tujuannya untuk kebaikan. Pertama kali Allah menciptakan alam dan isinya, “fi khalqissamawaati wal ardh” dalam penciptaan langit-langit dan bumi, untuk apa itu? Yaitu untuk kebaikan kita. Allah menciptakan bahwa di langit-langit itu atau di antara langit dan bumi terdapat ruang yang berisi udara. Untuk apa itu? Semuanya untuk manusia pula. Dan karena itu pula, Allah kemudian mengungkapkan, bahwa dalam rangka kebaikan itu, Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik pula. Sehingga diungkapkan dalam satu ayat yang terdapat dalam Surat At-Tiin, Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. At-Tiin 4 Sehingga segala sesuatu yang diperbuat oleh Allah itu adalah mempunyai tujuan-tujuan khusus. Ketika menciptakan kebaikan, Allah mempunyai tujuan. Demikian juga ketika ada hal-hal yang ternyata itu merupakan sesuatu yang dinilai merugikan bagi manusia, tetapi dalam hal-hal yang merugikan itu ada nilai-nilai positif yang dapat dijadikan sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Setiap Rasul mendapat anugerah mu’jizat yang dapat memberikan kenikmatan bagi kaumnya. Nabi Isa mendapat mu’jizat pengobatan, sehingga dapat menolong sebagian umatnya yang menderita penyakit yang ketika itu belum ada obatnya, dan nabi-nabi yang lain pun juga mendapat mu’jizat yang kemudian dapat memberikan kenikmatan bagi kaumnya umatnya ketika itu. Lantas apakah anugerah Allah kepada Nabi Muhammad yang dapat memberikan nilai-nilai positif atau kenikmatan-kenikmatan kepada umatnya seperti para nabi dan rasul yang terdahulu yang mendapat anugerah mu’jizat sehingga dapat memberikan nilai-nilai positif dan kenikmatan kepada umat-umatnya ketika itu? Di dalam Surat Ali Imran ayat 190-191 disebutkan Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, Ali Imraan 190 Siapakah ulil albab itu? yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ali Imraan 191 Tampaknya di sini Allah telah memberikan perbandingan, bahwa umat-umat terdahulu merupakan umat-umat yang keras, yang hanya mau percaya kalau mereka melihat sesuatu yang diinformasikan itu secara nyata. Sampai-sampai ketika mereka dianjurkan untuk beriman kepada Allah, jawaban mereka apa? Lam nu’minalaka, hatta narallaha jahratan Ya Musa, kami tidak akan beriman kepada apa yang kamu informasikan, sampai kami melihat Allah yang merupakan Sang Khalik dapat kita lihat secara nyata. Sehingga pada ayat tadi sebetulnya adalah untuk teguran, bahwa umat Nabi Muhammad itu secara budaya sudah lebih modern dibandingkan umat Nabi Musa. Sekarang kita ini secara budaya dan secara ilmu pengetahuan, sudah lebih modern dibandingkan dengan para sahabat. Tetapi, kemodernan akibat budaya, akibat kemajuan penalaran, mengapa masih harus disertai dengan pemikiran umat masa lalu yang kalau sesuatu itu harus terlihat nyata di depan kita. Maka Allah menegur, sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta dalam pergantian malam dan siang, itu sebetulnya sudah cukup sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah, sebagai tanda dan bukti bahwa Allah itu Wujud ada, Allah itu Qadirun berkuasa/mampu melakukan segala sesuatu, tanpa harus ditunjukkan bahwa Allah itu seperti ini dan seperti itu. Sehingga bukanlah cara yang terbaik untuk membuktikan bahwa Allah itu ada, yaitu dengan meminta sesuatu yang nyata, walaupun itu memang mu’jizat. Dalam bahasa aqidah, apa yang dianugerahkan kepada Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi-nabi terdahulu itu dinamakan “Mu’jizat Mu’aqqatah” mu’jizat yang temporer, yang hanya terjadi sekali dan tidak akan pernah terulang lagi. Sehingga, Nabi Musa memukulkan tongkat maka laut terbelah menjadi jalan, itu takkan terulang lagi. Begitu juga ketika Nabi Musa memukulkan tongkatnya pada batu dan batu itu memancarkan dua belas mata air, itu hanya terjadi sekali dan takkan pernah terulang lagi. Apakah Rasulullah Saw pernah mendapatkan mu’jizat mu’aqqatah? Pernah, yaitu ketika dalam suatu peperangan, makanan habis, padahal ketika itu pasukan istirahat, perut lapar, energi habis, maka kemudian Rasulullah bisa memperbanyak makanan yang sedikit. Tetapi itupun hanya terjadi sekali. Dengan seperti ini, apakah umat Rasulullah Saw para sahabat ketika itu hanya menginginkan bukti yang hanya sekali saja, kemudian tidak dapat dinalar dan dibuktikan kembali pada masa-masa yang akan datang. Maka kemudian Allah menegur, bahwa kalau masih bersikap demikian meminta bukti yang nyata berupa mu’jizat mu’aqqatah, maka umat Rasulullah akan dikategorikan bukan termasuk “ulul albab”. “albab” itu jamak dari “lubbun”, “lub” artinya intisari. Intisari dari manusia adalah akal dan jiwanya. “ulul albab” adalah kelompok yang memiliki saripati kemanusiaan. Artinya yang memiliki akal dan jiwa yang difungsikan. Sehingga kita-kita ini akan disebut sebagai orang yang memiliki akal yang difungsikan, atau sebaliknya yaitu yang memiliki akal tapi tidak difungsikan? Pernah dikritik Allah, “lahum quluubun laa yafqahu nabiha” mereka punya jiwa, punya hati, punya akal, tapi tidak dipakai untuk memikirkan segala sesuatu. Mereka punya mata, tapi tidak dipergunakan untuk melihat ciptaan Allah Yang Maha Sempurna. Mereka punya telinga, tapi tidak dipergunakan untuk mendengar kebaikan-kebaikan yang disampaikan. Sehingga kemudian Allah menegur, apakah kita manusia mau memilih mana antara “ulul albab” atau orang-orang yang hanya puas dengan bukti sesaat. Kalau memilih “ulul albab”, maka di situlah, “allazina yazkurunallah” yang selalu berzikir ingat kepada Allah kapan saja, di mana saja, serta bagaimanapun keadaannya, selalu mengingat Allah. Ketika kita ingat kepada Allah, apa implikasinya? Implikasinya adalah kita menjadi ingat kepada ciptaan-Nya, Maha Kuasa-Nya, Maha Kebaikan-Nya. Sehingga ini akan mendorong kita, kalau Allah Maha Baik, saya bisa tidak menjadi baik, kalau Allah Maha Pengampun, saya bisa tidak mengampuni sesama. Ini akan mendorong kita untuk memiliki sifat-sifat yang ada pada Allah. Sehingga nantinya akan, “Rabbana, maa khalaqta haaza baathila” Ya Allah, sungguh tidak sia-sia Engkau ciptakan sesuatu yang ada di dunia. Sungguh tidak sia-sia Allah menciptakan segala sesuatunya di atas dunia ini. Bahkan bencana alam sekalipun merupakan ciptaan Allah, yaitu ciptaan yang sesuai dengan sunnatullah. Kalau begitu di mana letaknya kalau ciptaan ini memberikan kebaikan bagi manusia? Dengan bencana alam, pada awalnya manusia memang mengalami banyak kerugian, banyak yang mati, lingkungannya rusak dan sebagainya. Tapi dengan bencana alam ini ternyata kemudian menimbulkan kesadaran, kepedulian dari sesama menyikapi musibah yang menimpa saudaranya, sehingga tergerak untuk membantu. Inilah nilai positifnya. Tidak ada hal yang sia-sia dari apa yang diciptakan oleh Allah di atas dunia ini, meskipun bencana alam sekalipun. Kalau kita menghayati semua ini, maka kita akan menemukan hikmah dan tujuan dari penciptaan Allah tentang hal-hal yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pasti pada akhirnya kita akan menemukan sesuatu yang memberikan nilai manfaat dan nilai lebih bagi kehidupan kita. Apakah tujuan Allah mengutus Nabi? Allah mengungkapkan, “Ketika Allah menciptakan manusia dalam kondisi terbaik, maka di situ pula Allah kemudian tidak akan pernah meninggalkan manusia dalam keterpurukannya.” Ketika manusia tersesat karena tidak lagi dapat mengikuti ajaran-ajaran para Rasul terdahulu karena banyaknya polusi-polusi kebudayaan serta noda-noda kemaksiatan yang mengotori akidah atau ajaran agama yang disampaikan Rasul, sehingga umat cenderung untuk melakukan kemungkaran, maka Allah tidak tinggal diam. Maka diutuslah para Nabi untuk mengingatkan lagi. Kemudian setelah Sang Nabi wafat, tidak berapa lama kemudian digantikan dengan Nabi yang lain. Sehingga, selalu ada Nabi yang menggantikan. Mengapa? Karena tujuannya adalah untuk menghindarkan umat manusia dari kesesatan, dari kesalahan syari’at, serta dari kesalahan ibadah. Ketika Rasulullah ditetapkan sebagai Khatamun Nabiyyin Nabi Yang Terakhir, apakah ini berarti setelah Rasulullah Saw wafat, maka Allah kemudian akan meninggalkan manusia, yang kemudian manusia akan hidup dalam keterpurukan dan kesesatan? Namun Rasulullah kemudian menginformasikan Innallaha yursilu li kulli ummatin ala ra’simiatin man yujaddidu laha diinaha Sesungguhnya Allah selalu akan mengirim pada setiap umat seseorang yang selalu akan memperbaharui pemahaman agama yang sudah menyimpang, agar umat tadi terhindar dari kezaliman. Sepeninggalan Rasulullah, maka muncullah mujaddid pertama di dalam Islam, yaitu Umar bin Khattab Khalifah Kedua dari Khulafaur Rasyidin. Apa jasa beliau sehingga dikenal sebagai mujaddid pertama di dalam Islam yang mengingatkan umat? Jasa beliau adalah untuk melestarikan Al-Qur’an, yaitu mengusulkan agar wahyu yang diterima Rasulullah disatukan dalam satu jilid mushaf. Karena ketika itu, begitu Rasulullah wafat ternyata sebagian Bangsa Arab ketika menyatakan memeluk Agama Islam lebih dikarenakan wibawa Rasulullah atau lebih didorong karena akhlak Rasulullah. Dikhawatirkan sepeninggalan Rasulullah, orang-orang yang memeluk Islam karena pengaruh wibawa Rasulullah itu akan berbalik kepada kejahiliyahan. Semasa hidup Rasulullah, otoritas penetapan hukum berada pada beliau selaku penerima wahyu. Sehingga sepeninggalan Rasulullah, tinggallah Al-Qur’an sebagai pedoman hukum, selain juga Sunnah Rasulullah yang ketika itu juga belum dikodifikasi dibukukan, sama halnya dengan Al-Quran. Dalam hal ini, Umar bin Khatthab memandang perlu dan pentingnya Al-Quran untuk segera disatukan dalam satu jilid mushaf. Karena saat itu Al-Qur’an memang belum dibukukan, melainkan pencatatannya masih tercerai berai dan lebih banyak mengandalkan catatan dan hafalan para sahabat yang mencatat Al-Qur’an semasa hidupnya Rasulullah. Sedangkan saat itu masa kekhalifahan Abu Bakar Siddiq, banyak para sahabat penghafal Al-Qur’an yang gugur di medan perang. Sehingga berkaitan dengan hal ini, maka ide Umar bin Khattab untuk menyatukan Al-Qur’an dalam satu jilid mushaf dapat dikatakan sebagai ide pembaharuan tajdid. Umar bin Khatthab selaku tokoh tajdid pembaharuan itu dapatlah dikatakan sebagai mujaddid pembaharu. Berkaitan dengan akhlak Rasulullah yang menjadi magnet tersendiri bagi syi’ar Agama Islam, sehingga semasa hidupnya Rasulullah banyak Bangsa Arab yang masuk Islam karena akhlak Rasulullah, bukan karena akidah yang ditawarkan. Maka sangat tepatlah ketika Rasulullah menyatakan, “Innama bu’istimu li utammima makarimal akhlaq,” Sesungguhnya Rasulullah itu diutus untuk menyempurnakan akhlak. Tentang kemuliaan akhlak Rasulullah ini, pernah terjadi ketika di Mekkah setiap kali Rasulullah berangkat ke Ka’bah ketika itu untuk beribadah, yang saat itu wahyu untuk melakukan perintah shalat lima waktu shalat fardhu belumlah diterima Rasulullah, sehingga ibadah Rasulullah ketika itu hanya dilakukan dua kali, yaitu “bukratan wa ashiila”, yaitu pagi dan petang, yang mana ibadah seperti ini sudah dilakukan Rasulullah sejak beliau menerima wahyu. Diceritakan bahwa setiap Rasulullah berangkat ke Ka’bah, di perempatan jalan sudah menunggu seseorang. Begitu melihat Rasulullah, orang tersebut langsung memaki-maki. Kadang-kadang makian tak mempan, maka diambilnya pasir lalu dilemparnya ke arah Rasulullah. Tapi Rasulullah tak mempedulikan itu. Rasulullah hanya tersenyum saja atas perlakuan orang tersebut. Sehingga orang tersebut semakin kesal saja. Mengapakah orang tersebut kesal? Orang tersebut kesal, karena keinginannya ketika dia memaki-maki Rasulullah, maka Rasulullah juga harus membalasnya dengan memaki-maki ataupun marah. Karena kalau Rasulullah marah, maka dia orang itu mempunyai alasan untuk melakukan perbuatan yang lebih dari itu. Namun Rasulullah hanya tersenyum saja menanggapi itu semua. Suatu saat ketika Rasulullah berangkat ke Ka’bah, ternyata orang yang biasanya memaki-maki beliau tersebut tidak ada. Rasulullah pun heran, karena tak biasanya, dan Rasulullah merasa ada sesuatu yang kurang dan janggal, karena biasanya disambut oleh sesuatu, tapi saat itu tidak. Akhirnya Rasulullah melanjutkan perjalanan ke Ka’bah. Setelah dari Ka’bah, Rasulullah pun bertanya-tanya, kemana gerangan orang yang biasanya memaki-maki dirinya itu. Ternyata setelah diketahui, bahwa orang tersebut sedang sakit. Lalu Rasulullah bergegas pulang, kemudian minta kepada istrinya Khadijah untuk membungkuskan makanan. Dengan membawa makanan, Rasulullah pun langsung menjenguk orang tersebut ke rumahnya. Mengetahui bahwa yang datang adalah Rasulullah, orang tersebut semakin ketakutan, takut kalau-kalau Rasulullah akan membalas perbuatannya. Rasulullah pun masuk ke rumah orang tersebut. Ternyata ketakutan orang tersebut tak terbukti, karena Rasulullah datang bukanlah untuk membalas dendam, melainkan untuk menjenguk orang tersebut yang sedang sakit. Maka orang tersebut kemudian hilang rasa takutnya, malahan kemudian muncul penghargaan dan rasa simpati terhadap Rasulullah, karena orang-orang di sekitarnya belum ada yang peduli kalau dia sedang sakit. Tapi ini, orang yang selama ini dimusuhinyalah yaitu Rasulullah yang peduli dan menjenguknya yang sedang sakit. Ketika Rasulullah akan pamit pulang dan mau keluar dari rumah orang tersebut, tiba-tiba orang tersebut memanggil “Ya Muhammad, aslamtu bima da’awtani”, ya Muhammad, saya menyatakan keislaman saya terhadap apa yang engkau dakwahkan kepada kami. Islamnya orang tersebut karena apa? Bukan karena keyakinan bahwa yang didakwahkan Rasulullah itu benar, bukan karena mempercayai bahwa yang didakwahkan Rasulullah itu datang dari Allah. Tetapi lebih dikarenakan akhlak mulia Rasulullah. Manusia, karena secara fitrah mempunyai potensi fujur kekuatan yang selalu mengajak kepada keburukan, maka pasti tidak ada satupun manusia yang terhindar dari keinginan untuk melakukan keburukan. Sehingga berbuat buruk itu konon sudah menjadi sifat dasar manusia. Namun di sinilah, ketika kita melakukan keburukan, hendaknya segera sadar bahwa itu salah. Bagaimana memperbaikinya? Ikutilah perbuatan buruk tadi dengan perbuatan baik yang dapat menghapus, yang dapat menjadi kompensasi dari perbuatan buruk tadi. Oleh karena itulah, kita selalu dianjurkan untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Karena kebaikan itulah yang sesuai dengan tujuan Allah dalam penciptaannya, yaitu penciptaan itu adalah untuk kebaikan. Ketika menganjurkan umat, maka ungkapannya adalah wal takum minkum ummatun, yaf’uuna ila khairi “hendaknya di antara kamu ada sekelompok orang yang mau mengajak kebaikan,” bukan mengajak kepada keimanan terlebih dahulu. Wa ya’muruna bil ma’ruf wa yanhaw anil munkar, setelah mengajak kepada kebaikan, baru kemudian mengajak kepada ajaran syari’ah. Dan itu ternyata sesuai dengan misi pengutusan Allah terhadap Rasul-Nya, li utammima makarimal akhlaq. Kemudian ungkapan tadi dilanjutkan, wa ahsin kama ahsanallahu ilaika, “dan berbuatlah yang terbaik, sebagaimana Allah telah melakukan yang terbaik bagi kita bagi manusia”. Pada yang pertama adalah perintah yang baik, maka perintah selanjutnya adalah berbuat yang terbaik, sebagaimana Allah telah melakukan yang terbaik bagi manusia. Jadi, semua yang dilakukan Allah terhadap manusia adalah segala sesuatu yang terbaik. Bandingkan dengan apa yang dilakukan manusia. Kalau kita manusia melakukan suatu kegiatan, seringkali semampunya saja. Padahal ketika melakukan sesuatu, kadang kita mengeluarkan tenaga, mungkin juga berfikir bagaimana melaksanakannya, mungkin juga harus mengeluarkan uang. Namun karena di dalam hati niat melakukannya itu seenaknya, maka hasil yang dicapaipun menjadi seenaknya. Berbeda ketika kita melakukan pekerjaan dengan niat untuk mencari hasil yang terbaik, sama-sama mengeluarkan tenaga, biaya, dan penalaran, namun karena dilandasi dengan niat untuk mencapai yang terbaik ahsin, maka hasilnyapun menjadi yang terbaik. Manusia selalu ingin karyanya dihargai. Kalau itu yang diinginkan, tampaknya kita perlu bersikap seperti yang dilakukan Allah, bahwa segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah pasti ada manfaatnya, pasti membawa sesuatu yang berfaedah bagi makhluk-Nya. Mengapa bagi makhluk-Nya? Karena Allah tidak memerlukan sesuatu, Allah tidak memerlukan apa-apa. Yang dilakukan Allah adalah untuk kepentingan makhluk-Nya, terutama manusia. Sehingga, ketika kita menghayati Keesaan Allah dalam penciptaan, maka hanya Allah yang dapat melakukan segala sesuatu dengan tanpa sia-sia. Rabbana maa khalaqta haaza baathila, maksudnya adalah bahwa apapun yang dilakukan Allah, apapun yang yang diciptakan oleh Allah, pasti akan memberikan nilai tambah bagi manusia. Ini keesaan Allah. Dan kewajiban kita adalah meniru apa yang dilakukan oleh Allah. Yang pasti kita tidak dapat menyamai-Nya, walam ya kullahu kufuwan ahad tidak ada satupun yang dapat menyamai Allah-dalam segala halnya, namun yang dapat kita lakukan hanyalah meniru-Nya. Kalau Allah menciptakan sesuatu adalah selalu memiliki manfaat dan tujuan, kitapun bisa melakukan itu apabila disertai keinginan untuk melakukan dengan yang terbaik, karena sesuatu yang terbaik akan memberikan manfaat. Dalam bahasa teologinya disebut bahwa pengiriman Rasul itu merupakan “nazhariyatusshalah wal ashlah” yang artinya “teori kebaikan dan yang terbaik”, maksudnya adalah bahwa yang dilakukan oleh Allah kepada makhluk-Nya itu adalah sesuatu yang baik dan terbaik. Sehingga setiap makhluk mesti diberi sarana untuk menjadikan dirinya baik dan terbaik. Makhluk yang lemah dan tak memiliki pertahanan diri yang dapat diandalkan ternyata diberi kemampuan lain. Misalnya, kijang tidak mempunyai pertahanan diri, tapi dia diberi kemampuan bisa lari cepat. Ini adalah untuk kebaikan makhluk itu sendiri. Cumi-cumi tidak dapat menentang predator hewan pemangsa, maka dia diberi kemampuan bisa mengeluarkan cairan hitam yang bisa membuat gelap, sehingga dia bisa menyelamatkan diri. Manusiapun begitu. Bahkan kelengkapan dan kebaikan yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah merupakan sesuatu yang komprehensif menyeluruh, dari tangan, kaki, akal , pendengaran, penciuman, dan sebagainya, yang semuanya bisa dimanfaatkan untuk kebaikan manusia. Maa khalaqta haaza bathila, untuk apa penciptaan Allah yang luar biasa itu? Semuanya adalah ditujukan untuk manusia. Sehingga kita layak menyikapi apa yang ada di sekitar kita, bahwa itu semua adalah ciptaan Allah yang harus kita hayati, kita sikapi, dan kita respon dengan bijaksana. Sehingga kita tidak terlanjur menyikapi dengan sembrono, yang pada akhirnya dapat menyebabkan sesuatu yang salah. Pada saat Rasulullah telah dipastikan sebagai insan pilihan, sebagai manusia yang selalu berjalan dalam kebenaran, mendapat wahyu yang berasal dari Allah, itupun beliau tidak boleh sembarangan. Surat Yaasin mengungkapkan Yaasin, wal quranil hakim Yaasin, Demi Qur’an yang penuh dengan ajaran-ajaran dengan kebijaksanaan. Innaka laminal mursalin Sesungguhnya engkau ya Muhammad adalah benar-benar dari kelompok yang dipilih Tuhan menjadi Rasul yang diutus. Ala shiratal mustaqim Yang pasti berada pada jalan yang benar. Tanziilal azizirrahim Yang mendapat wahyu turun dari Allah. Walaupun sebagai seorang Rasul, tapi tidak boleh berdakwah semaunya. Bagaimana berdakwah? Seperti yang ada di dalam Al-Qur’an, yaitu “hakim”, “hikmah”, kebijaksanaan. Ada ungkapan, qulil haqqa walaukaana murran katakanlah yang benar walaupun itu pahit. Tapi menurut Al-Qur’an tidak begitu. Kalau Al-Qur’an ajarannya adalah seperti yang tersebut pada Surat Al-Baqarah “wakuulu linnaasi husna”, artinya “berbicaralah pada manusia-manusia orang-orang di sekitarmu dengan cara yang terbaik,” maksudnya adalah menyampaikan sesuatu kebenaran dengan nuansa kebaikan. Kalau ingin mengatakan yang benar, bagaimana ungkapan yang benar tersebut dapat diinformasikan dengan cara yang baik dan benar pula, sehingga tidak menyakitkan. Karena kalau “qulil haqqa walaukaana murran” katakanlah yang benar walaupun itu menyakitkan. Tapi kalau dalam Al-Qur’an tidak seperti itu. Sebab kalau sesuatu yang benar disampaikan dengan cara yang keras, maka orang-orang akan lari. Ayat Al-Qur’an juga mengisyaratkan itu “fabima rahmatin min rabbika lintalahum walau kunta fardhan ghalizal qalbi lan fazlu min haulik” maka dengan rahmat Allah, anugerah Allah, yang dikaruniakan kepadamu, hendaknya kamu bersikap lemah-lembut, walaupun yang kamu sampaikan itu benar tapi kalau menyampaikannya dengan cara yang keras dan kaku, maka orang-orang akan lari. Apa saja yang diciptakan Allah ternyata untuk kebaikan manusia. Walaupun apa yang dilakukan Allah itu benar dan bermanfaat, tapi apabila tidak disikapi secara bijak, justru akan menyebabkan munculnya kebencian. Mungkin ada di antara umat Islam yang kurang memperhatikan ini, sehingga kalau menyampaikan kebenaran justru menimbulkan kebencian orang lain. Maka mungkin kita harus menyikapi dengan “fabima rahmatin min rabbika lintalahum”, bersikap lemah-lembut. Jika mengajak kepada kebaikan dan memberantas kemungkaran, bagaimana melaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah, yaitu dengan cara yang lembut, sehingga tidak menimbulkan kebencian. Wal qur’anil hakim demi Al-Qur’an yang di dalamnya penuh dengan ajaran-ajaran yang bijaksana. Ternyata Al-Qur’an itu ajarannya penuh dengan kebijakan-kebijakan. Sehingga sebenarnya itulah tujuan Allah menciptakan hal-hal yang ada di sekitar kita. Itulah tujuan Allah dalam mewahyukan Al-Qur’an kepada Rasul-Nya, yang kemudian menjadi imaman pedoman, wa nuuran, wa hudan, wa rahmah. Dan yang jangan dilupakan adalah “wa rahmah” dan rahmat, maksudnya adalah bahwa Al-Qur’an itu dapat menjadi hal-hal yang menimbulkan kasih sayang. Dari kata “rahmat” muncul Ar-Rahman Ar-Rahim yang artinya kasih sayang. Sehingga apa yang dilakukan Allah Swt betul-betul merupakan keesaan-Nya, yang semuanya ditujukan untuk membangkitkan kebaikan-kebaikan, kasih sayang-kasih sayang di antara kita sesama makhluk-Nya. Apabila ini dapat kita hayati, maka pasti akan menimbulkan dorongan pada diri kita. Mengapa saya tidak melakukan yang terbaik, kalau yang burukpun memerlukan tenaga, sama-sama lelahnya. Karena itu, mungkin seperti Allah Swt yang tidak pernah membenci makhluk-Nya, walaupun makhluk-Nya ingkar, tapi Allah selalu membuka pintu taubat, karena menginginkan kebaikan bagi makhluk-Nya. Inilah keesaan Allah dalam perbuatan-Nya. Atau “at-tauhiid fi af’al”. [] Disarikan dari Pengajian Tauhid yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Hamdani Anwar, pada tanggal 12 Juni 2007 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor Hanafi Mohan. Entry filed under Akidah Akhlak, Islamika. Tags akhlak, tauhid.
Tauhid merupakan ilmu dasar Islam, ilmu mengenal Allah. Kepercayaan bahwa Allah Ta'ala adalah Tuhan yang satu dan merupakan satu-satunya diakui oleh semua mukmin tanpa ada pertentangan akan hal itu. Namun semua itu perlu pengenalan untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Dalam memasuki pintu keTuhanan menjadi hal yang mendalam yaitu mengetahui Dzat, sifat, af’al dan asma’ ALLah Ta'ala. Perlu diingat juga bahwa segala perbuatan apapun yang terjadi dan berlaku di dalam alam ini pada hakikatnya adalah Af’al Perbuatan Allah ta’ala. A. DZAT Firman Allah "Sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada Tuhan kecuali "Aku", maka, sembahlah "Aku" Qs. At Thaha 14 ayat ini menyebutkan "pribadinya" atau Dzat Allah, seperti di kalimat,,,sembahlah "Aku" Allah Dzat wajibul wujud yang wajib adanya. Allah SWT merupakan Dzat yang berdiri sendiri tanpa adanya ketergantungan pada dzat yang lain. Sangat berbeda dengan manusia yang membutuhkan Allah untuk bisa hidup. Adanya alam, malaikat, jin, dan manusia itu tercipta karena adanya akibat dari adanya Dzat Allah. Semua ada karena Dzat yang Maha Qadim. B. SIFAT Sebagai Sang Khalik, Allah swt memiliki sifat-sifat yang tentunya tidak sama dengan sifat yang dimiliki oleh manusia ataupun makhluk lainnya. Mengenal sifat-sifat Allah dapat meningkatkan keimanan kita. Seseorang yang mengaku mengenal dan meyakini Allah itu ada namun ia tidak mengenal sifat Allah, maka ia perlu lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Klik baca Sifat-sifat Allah yang wajib kita imani. C. AF’AL Af’al Allah adalah perbuatan Allah. Bahwa segala yang ada yaitu alam semesta ini dan segala isinya termasuk manusia adalah Af’al perbuatan Allah SWT. Adanya bumi, langit, manusia, malaikat, jin, surga, neraka dan yang lainnya merupakan Af’al Allah. Firman Allah “Allah yang menjadikan kamu dan apa yang kamu perbuat.” QS. ash shaffat 96. Ketahuilah bahwa untung baik seperti beriman dan untung jahat seperti kafir semuanya sudah ditetapkan oleh Allah. Jadi bagaimana bila kafir apakah Allah juga yang melakukan dosa ? Allah tidak bisa disalahkan karena pada diri manusia Allah mengaruniakan hati agar manusia bisa bebas memilih sendiri antara baik dan buruk maksudnya Allah tetap memerikan kebebasan pada manusia dalam menentukan nasib dirinya sendiri, semuanya memang sudah di tetapkan dan dituliskan tentang nasib setiap mahkluk di lauhul mahfuzd di dalam kitab ketentuan nasib tiap mahkluk oleh Allah dan yang ditetapkan dan di tuliskan itu tidak akan di ubah lagi, walau pada lauhul mahfuzh tidak berubah lagi akan tetapi pada Allah yaitu pada hak Allah ta'ala masih bisa berubah sesuai dengan kehendak Nya karena Allah bersifat jaiz harus yaitu boleh menjadikan atau tidak menjadikan sesuatu sesuai kehendak Nya ini hak mutlak Allah. Kesimpulannya seseorang kafir itu bukan kehendak Allah tapi kehendak dirinya. Allah itu adil bila kita berbaik sangka kepada Nya maka Dia pun baik dengan kita begitu juga sebaliknya. D. ASMA Asma adalah nama, Firman Allah "Allah mempunyai asmaul husna, maka bermohonlah kepada Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam menyebut nama-nama Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan". QS. Al-Araf 180.
Oleh Kurniawan Nata Dipura Editor Saeful Ramadhan Menempel di badan ia bernama baju, ada dijendela bernama gorden, tergerai dikasur dipanggil seprai melekat dikaki, di debut celana, Baju, Gorden, Seprai dan Celana asalnya dari Kain, Kain tertenun dari Benang, dan benang asalnya dipintal dari KAPAS, ibarat meja, Lemari, Pintu, kursi, bangku, wujud dan nama saja berbeda namun semua terbuat dari KAYU lah asalnya. Adalah Ke-Esa-an Allah pada segala perbuatan. Ketahuilah oleh engkau wahai salik bahwa segala perbuatan apapun yang terjadi dan berlaku di dalam alam ini pada hakikatnya adalah Af’al Perbuatan Allah ta’ala, sama saja perbuatan itu baik maupun jahat adalah perbuatan Allah jua. – Perbuatan baik, yaitu perbuatan yang baik pada rupa dan pada hakikatnya, seperti iman dan takwa. – Perbuatan Jahat, yaitu perbuatan yang jahat pada rupa tapi tidak pada hakikatnya, seperti kafir dan maksiat. Kafir dan maksiat pada hakikatnya baik juga karena terbit dari yang baik yaitu dari Allah. Dan tiap-tiap yang terbit dari Allah itu baik. Ingatlah bahwa segala yang terjadi di alam semesta ini pasti ada manfaatnya, karena Allah tidak menjadikan sesuatu dengan sia-sia. Salah satu contoh adalah Allah menciptakan nyamuk, dan nyamuk diciptakan hanya untuk berbuat jahat yaitu menghisap darah. Tapi walaupun hanya menghisap darah, nyamuk tetap mempunyai manfaat. “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini? Dengan itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan itu selain orang-orang fasik.” “Tidaklah Engkau jadikan semua ini dengan sia-sia, maha suci Engkau.” Cara Musyahadah menyaksikan Tauhid Af’al adalah, yaitu Engkau syuhud pandang/saksikan dan diyakinkan di dalam hati bahwa segala perbuatan yang menurut kita baik dan jahat itu semua terbit dari Allah. Jadi kenalilah dan saksikanlah bahwa Allah ta’ala itulah pelaku dibalik segala af’al perbuatan yang terjadi di alam semesta ini. Dalil yang menunjukkan bahwa segala perbuatan itu terbit dari Allah dan tidak dari selain-Nya, yaitu; shoffat96; “Allah yang menjadikan kamu dan apa yang kamu perbuat.” Syekh sulaiman Al Jazuli rohimahullah menjelaskan dalam kitab dalailul khoirot, bahwa “Tidak ada dari seseorang dan dari seluruh hamba-Nya suatu perkataan, perbuatan, gerak dan diam melainkan sudah lebih dahulu pada ilmu pengetahuan Allah ta’ala, Qodho dan Qodrat ketentuan dan kehendak Nya.” “Katakanlah, tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.” “Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab laughul mahfuz sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” Dan dalil-dalil lainnya; 841, 1192; “Allah ta’ala berfirman dengan perkataan yang sama, yaitu; Dan Allah meliputi apa yang kamu kerjakan.” “Tidaklah kamu yang melempar tetapi Allah-lah yang melempar ketika engkau melempar.” “Dialah Allah yang menjadikan kamu dapat berjalan didaratan.” “Yang telah mejadikan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku.” “Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” Dan sabda nabi Muhammad saw; “Laahaula wala quwwata illa billahil Aliyyil Adziim / Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan Allah yang maha tinggi, maha agung.” Dan lagi sabda nabi saw; “Laa tataharroka dzarrotun illaa bi iznillah / Tiada bergerak suatu zarroh pun melainkan dengan izin Allah.” Dan sabda nabi saw; “Sesungguhnya Allah yang menjadikan semua pekerja dan pekerjaannya.” HR. Al Hakim. Dan suatu isyarat dari nabi kita Muhammad saw, yaitu tidak pernah mendo’akan kehancuran kaum Quraisy yang telah menyakiti dirinya. Hal ini karena beliau musyahadah memandang bahwa perbuatan itu dari Allah. Dan Allah berfirman kepada nabi Muhammad saw di “Dan janganlah engkau sedih oleh perkataan meraka. Sungguh, kekuasaan akan perkataan mereka itu seluruhnya milik Allah. Dia maha mendengar, maha mengetahui.” Apabila engkau senantiasa musyahadah menyaksikan yang seperti yang demikian ini dengan penuh keyakinan, niscaya engkau terlepas dari bahaya syirik khofi dan mendapat maqom wihdatul af’al yang artinya meng-Esa-kan Allah ta’ala pada segala perbuatan sehingga fana’ lenyap segala perbuatan makhluk termasuk perbuatan dirinya, karena nyatanya perbuatan Allah yang Maha Nyata. Jadi, engkau saksikan dengan jelas bahwa segala wujud majazi ini hilang sirna dan lenyap tiada arti dibawah Nur Wujud Allah yang sebenarnya. Seperti tiada arti cahaya lilin yang dinyalakan dibawah Cahaya Wujud Matahari. Dari berbagai uraian ini, maka kita ketahui bahwa sama saja perbuatan itu baik ataupun jahat pada hakikatnya dari Allah ta’ala jua. Dalil yang menunjukkan akan hal ini didasarkan atas hadits nabi saw, di dalam do’a beliau; “Allahumma innii audzu bika minka / yaa Allah, Aku berlindung dengan Engkau dari Engkau.” HR. Abu Daud dari Ali bin Abi tholib Dan dalam riwayat lain nabi bersabda; “Allahumma inni audzu bika min syarri maa kholaq / Yaa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yang engkau jadikan.” Dan hal ini juga sesuai firman Allah “Qul a’udzu bi robbil falaq, min syarri ma kholaq / Katakanlah aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh dari kejahatan yang Dia jadikan.” Maka kalau sekiranya kejahatan itu bukan dijadikan Allah, maka tidak mungkin nabi mengucapkan do’a demikian. Jadi, jelaslah bahwa perbuatan baik dan jahat pada hakikatnya dari Allah. Dan Dalil-dalil lainnya; Qs. Annisa’ 4 78; “Dimanapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada dalam benteng yang tinggi dan kokoh. JIKA MEREKA MEMPEROLEH KEBAIKAN, MEREKA MENGATAKAN “INI DARI ALLAH”, DAN JIKA MEREKA MENDAPAT KEBURUKAN MEREKA MENGATAKAN, “INI DARI ENGKAU”. KATAKANLAH SEMUANYA DARI ALLAH. MAKA MENGAPA ORANG-ORANG ITU ORANG-ORANG MUNAFIK HAMPIR-HAMPIR TIDAK MEMAHAMI PEMBICARAAN INI SEDIKITPUN?” Qs. Al-A’rof 7131; “Kemudian apabila KEBAIKAN datang kepada mereka, mereka berkata, “ini adalah karena usaha kami”. Dan jika mereka mendapat KESUSAHAN, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya. KETAHUILAH, SESUNGGUHNYA NASIB MEREKA DITANGAN ALLAH, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui.” “Dan jika Allah menimpakan suatu Bencana keburukan/kejahatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki Kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan Kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba Nya. Dia maha pengampun, maha penyayang.” “Mereka menjawab, kami mendapat nasib yang Buruk disebabkan oleh kamu dan orang-orang yang bersamamu. Dia berkata, “Nasibmu ada pada Allah, tetapi kamu adalah kaum yang sedang diuji”. “Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka manusia TIDAK ADA PILIHAN. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” “Katakanlah, siapakah yang dapat melindungi kamu dari Allah jika Dia menghendaki Bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu? Mereka itu tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? KAMILAH YANG MENENTUKAN KEHIDUPAN MEREKA DALAM KEHIDUPAN DUNIA, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. ” “Dan hanya milik Allah kerajaan langit dan bumi. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki, dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah maha pengampun, maha penyayang.” “Tidak ada suatu Musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.” Sebagian Arifbillah membuat perumpamaan untuk memahami hal ini, yaitu seperti; Wayang yang dimainkan oleh dalang dengan berbagai macam gerak. Jadi wayang itu tidak mempunyai perbuatan sendiri, dan berbagai macam gerak wayang itu adalah mazhar kenyataan dari dalang itu sendiri. Maka seperti itulah antara hamba dengan Tuhannya. Walaupun segala perbuatan, gerak dan kejadian pada hakikatnya adalah dari Allah jua, maka janganlah engkau melanggar syariat nabi kita Muhammad saw dan tetap teguhlah dalam Takwa mengerjakan segala yang diperintahkan Allah dan Rosul-Nya serta menjauhi segala yang dilarang-Nya. Jadi janganlah sekali-kali menafsirkan bahwa gugur taklif syara’ tidak ada kewajiban hukum syariat. Apabila engkau beiktiqod berkeyakinan demikian, jadilah engkau kafir zindik. Na udzubillahi min dzalik. Oleh karena itu, istiqomahlah dalam melaksanakan syariat nabi Muhammad saw dan juga tetaplah engkau Musyahadah dengan mata hatimu secara terus menerus berkekalan bahwa segala Kebaikan dan Keburukan adalah dari Allah jua. Sehingga lepaslah engkau dari syirik khofi syirik yg halus tidak kelihatan. Apabila engkau memandang diri masih merasa ada suatu perbuatan pun, maka itulah syirik khofi walaupun engkau tidak berbuat syirik jalli syiri yang nyata. Allah ta’ala berfirman; “Sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan masih dalam keadaan menyekutukan-Nya dengan memandang Wujud dan perbuatan selain Allah.” Karena itulah sayyid umar bin Al Farid rohimahullah berkata; “Andaikata terlintas didalam fikiranku suatu kehendak yang lain dari Mu karena lalai lupa, maka aku sebut diriku ini dengan murtad”. Dan syekh Abu Abbas Al Mursi rohimahullah berkata; “Andaikata aku terhijab terlupa dari Tuhanku meskipun sekejap mata, maka tidaklah lagi aku termasuk manusia”. Jadi, engkau disebut musyrik apabila engkau tidak mengikuti jalan mukmin yang sebenarnya. Dan jalan mukmin itu adalah memandang bahwa Tiada yang berbuat, yang hidup, dan yang Maujud dalam wujud ini hanya Allah ta’ala sendiri. Maka apabila engkau mengikuti jalan mukmin yang sebenarnya barulah engkau disebut mukmin yang benar dan lepaslah engkau dari syirik khofi, serta keluarlah engkau dari yang disebut Allah dengan musyrik. Dan jadilah engkau Ahli Tauhid yang benar yang disegerakan surga di dalam dunia ini. Serta patutlah atas engkau dimuliakan oleh Allah dalam akhirat. Allah ta’ala berfirman; Qs. Arrohman46; “Dan dua surga bagi siapa saja yang takut saat menghadap Tuhannya.” Surga pertama adalah surga Musyahadah menyaksian Allah yang di dapat dari Ma’rifatullah di dunia ini. Surga kedua adalah surga Akhirat yang disebutkan oleh Allah ta’ala di dalam alqur’anul karim. Syekh Al alimul Allamah Al Bahrur Ghoriq Marlan Abdullah ibnu Hijazi As Syarqowi Al Mishri rohimahullah, berkata; “Barang siapa yang telah memasuki surga ma’rifatullah di dunia ini, niscaya tiada berhasrat lagi kepada surga akhirat yang berupa bidadari, istana, dan segala sesuatu yang disana. Hasratnya hanya ingin sedekat-dekatnya pada hadirat Allah dan Rukyatullah melihat Allah. Maka nikmat yang paling tinggi di akhira adalah Rukyatullah, sebagaimana firman Allah; “Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu berseri-seri, melihat Tuhannya.” Jadi jauh sekali perbedaannya antara nikmat Rukyatullah melihat Allah dibandingkan nikmat seperti bidadari, istana, dan segala sesuatu yang ada disana. Begitu pula tentang Musyahadah menyaksikan Allah di dunia ini dalam arti ma’rifatullah yang telah terbuka pada hati orang-orang yang Arifbillah, itu hanya sebagian kecil saja dibandingkan dengan Rukyatullah di akhirat kelak. Walaupun demikian, niscaya mereka akan mendapatkannya karena mereka telah menyaksikan Allah di dunia ini. Seperti firman Allah “Barang siapa buta didunia ini, maka di akherat lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” Dari ayat ini, dapat kita ketahui bahwa mereka para Arifbillah telah mendapat jaminan dari Allah karena mereka tidak buta terhadap-Nya di dunia ini. Suatu perkataan dari Arifbillah Maulana syekh Abdul Wahab Sya’roni qoddasallahu sirrahu dalam kitab jawahirul wad daruri, ia menukil dari perkataan syekh Al Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi rohimahullah, yaitu bahwa; Segala Akwan keadaan/kejadian ini adalah dinding yang mendidingi kita dari HAQ ta’ala. Padahal hanya HAQ ta’ala inilah yang berbuat dibalik hijab semua akwan ini. Seperti; bayang-bayang kayu di dalam air sungai yang seakan-akan merintangi jalannya perahu. Adapun perahu yang tidak mau melewatinya, karena menyangka itu kayu yang sebenarnya, maka ia telah terhijab. Jadi barang siapa terbuka hijab niscaya dilihatnya bahwa yang berbuat pada segala perbuatan itu adalah Allah ta’ala sendiri. Dan barang siapa tidak terbuka hijab, maka ia terdinding dari akwan ini, sehingga ia tidak mampu memandang Fa’il pelaku yang sebenarnya yaitu Allah. Makhluk Tuhan di dunia ini merupakan perwujudan kasih sayang-Nya, dan bukan kemarahan-Nya. Karenanya dunia tidak dilumuri dosa sebelumnya. Di dalam neraka-Nya, kenikmatan juga akan dirasakan oleh makhluk-Nya. Syekh Al Akbar Ibnu Arabi menerangkan bahwa kata Azab siksa berasal dari kata Adzb lezat, artinya bahwa dari siksa akan lahir kenikmatan. Ikan memang harus di air, sedang salamander harus berada dalam api, keduanya tidak mungkin bertukar tempat. Mereka bagaikan penderita penyakit kudis yang dikupas bagian terluar lukanya, di dalamnya masih akan ditemukan kenikmatan, dan mereka bagaikan seorang sakit yang memang harus minum obat pahit, untuk menghilangkan rasa sakit. Renungkanlah karena masalah ini indah sekali. Berkaitan dengan Tauhidul Af’al, Arifbillah maulana Quthubul syekh muhyidin Al Akbar Ibnu Arabi rohimahullah, menjelaskan tentang firman Allah ta’ala; “Allah setiap saat dalam kesibukan.” Hal ini berarti bahwa setiap saat alam semesta dan diri kita ini selalu mengalami perubahan, karena Allah setiap saat terus menerus sibuk dalam menciptakan sampai saat ini pun. “Akan tetapi kebanyakan manusia ragu terhadap ciptaan baru Pada saat kita terhijab belum mengetahui bahwa segala perbuatan itu dari Allah, kita menyangka bahwa setiap perbuatan itu dari kita dan untuk kita sendiri. Maka itu berarti, Allah memberi suatu cobaan dengan menyandarkan perbuatan itu kepada kita, sehingga kita menyangka bahwa kita yang berbuat. Dan apabila kita telah masuk kehadirat ihsan beribadah seakan-akan melihat Allah dan terbuka dinding hijab antara kita dengan Allah, niscaya kita lihat bahwa segala perbuatan itu sebenarnya terbit bersumber dari Allah ta’ala sendiri dan kita sebenarnya tidak melakukan suatu perbuatan pun. Hal ini seperti sabda nabi Muhammad saw; “Laa haula walaa quwwata illa billahil aliyyil azhiim / Tidak ada daya upaya usaha dan kekuatan untuk berbuat kecuali dengan Allah yang maha tinggi, maha agung.” Kemudian apabila kita sampai kepada Musyahadah ini, maka takwa lah kita dengan tetap istiqomah dalam pegangan pendirian syara’ yaitu Adab akhlak kita kepada Allah..
Pada artikelini saya akan membahas af’al khomsah fi’il yang berjumlah 5. Fi’il ini dibahas dalam bab tersendiri karena mempunyai tanda i’rab khusus yang berbeda dengan fi’il yang lainnya. Pengertian Af’alul khomsah Secara bahasa, af’alul khomsah adalah fi’il yang berjumlah 5. Adapun secara istilah, af’alul khomsah adalah sebagai berikut الأَفْعَالُ الْخَمْسَةُ هِيَ كُلُّ فِعْلٍ مُضَارِعٍ اِتَّصَلَتْ بِهِ أَلِفُ الْإِثْنَيْنِ أَوْ وَاوُ الْجَمَاعَةِ أَوْ يَاءُ الْمُخَاطَبَةِ Artinya Af’alul khomsah adalah semua fi’il mudhori yang bersambung dengan alif tasniyah, atau wawul jamak wawu yang menunjukkan jamak atau ya’ mukhotobah yang menunjukkan mu’annats Macam-Macam Af’alul Khomsah Dari pengertian diatas, kita bisa tahu bahwa af’al khomsah berasal dari fi’il mudhori yang bersambung dengan alif tasniyah, wawu jamak, dan ya’ mukhotobah, yang semuanya berjumlah 5, yakni sebagai berikut يَفْعَلَانِ 1 تَفْعَلَانِ 2 يَفْعَلُوْنَ 3 تَفْعَلُوْنَ 4 تَفْعَلِيْنَ 5 Jadi semua fi’il mudhori’ yang mengikuti wazan-wazan timbangan di atas disebut af’alul khomsah. Misalnya kita akan membuat af’alul khomsah dari kata ضرب, نصر, جلس, ذهب, dan كتب. يَضْرِبَانِ 1 تَضْرِبَانِ 2 يَضْرِبُوْنَ 3 تَضْرِبُوْنَ 4 تَضْرِبِيْنَ 5 يَنْصُرَانِ 1 يَنْصُرُوْنَ 2 تَنْصُرَانِ 3 تَنْصُرُوْنَ 4 تَنْصُرِيْنَ 5 يَجِلِسَانِ 1 يَجْلِسُوْنَ 2 تَجْلِسَانِ 3 تَجْلِسُوْنَ 4 تَجْلِسِيْنَ 5 يَذْهَبَانِ 1 تَذْهَبَانِ 2 يَذْهَبُوْنَ 3 تَذْهَبُوْنَ 4 تَذْهَبِيْنَ 5 يَكْتُبَانِ 1 تَكْتُبَانِ 2 يَكْتُبُوْنَ 3 تَكْتُبُوْنَ 4 تَكْتُبِيْنَ 5 Contoh Af’alul khomsah dalam kalimat الطَّالِبَانِ يَذْهَبَانِ إلَى الْمَدْرَسَةِ 1 2 siswa pergi kesekolah الطَّالِبَتَانِ تَذْهَبَانِ إِلَى الْمَدْرَسَةِ 2 2 siswi pergi kesekolah الرِّجَالُ يُصَلُّوْنَ فِي الْمَسْجِدِ 3 Para lelaki shalat di masjid أنْتُمْ تَأْكُلُوْنَ الفَاكِهَةَ 4 Kalian makan buah أَنْتِ تَأْكُلِيْنَ السَّمَكَ 5 Kamu makan ikan Contoh Af’alul Khomsah Dalam Al Qur’an AYAT SURAT NO الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ Al Baqarah 3 1 yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib dan melaksanakan shalat يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا Al Baqarah 9 2 Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ Al Baqarah 9 3 Padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ Al Baqarah 11 4 Dan apabila dikatakan kepada mereka “janganlah berbuat kerusakan dibumi” صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ Al Baqarah 18 5 Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ Al Baqarah 22 6 Maka janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ Al Baqarah 24 7 Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan pasti tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ Al Baqarah 26 8 Adapun orang-orang yang beriman, mereka mengetahui bahwa itu kebenaran dari tuhan mereka كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ Al Baqarah 28 9 Bagaimana kamu ingkar kepada Allah padahal kamu tadinya mati lalu Dia menghidupkanmu I’rab Af’alul khomsah Af’alul khomsah menerima 3 i’rab sebagaimana fi’il mudhari’ pada umumnya juga menerima tiga i’rab, yakni rafa’, nashob, dan jazm. Af’alul khomsah jika beri’rab rafa’ maka tandanya adalah tsubutun nun tetapnya huruf nun yang berada diakhir kata. Jika beri’rab nashob atau jazm, maka tandanya adalah hadzfun nun menghapus huruf nun yang berada di akhir kata. Contohnya adalah الطَّالِبَانِ يَذْهَبَانِ إلَى الْمَدْرَسَةِ 1 2 siswa itu pergi ke sekolah الطَّالِبَانِ لَنْ يَذْهَبَا إلَى الْمَدْرَسَةِ 2 2 siswa itu tidak akan pergi kesekolah لَا تَذْهَبَا إلَى الْمَدْرَسَةِ 3 Kalian berdua jangan pergi kesekolah Pada contoh pertama af’alul khomsah يَذْهَبَانِ beri’rab rafa’, maka tandanya adalah tsubutun nun tetapnya huruf nun yang berada di akhir kata. Pada contoh kedua af’alul khomsah يَذْهَبَا beri’rab nashob karena bersambung dengan amil nashob yakni لَنْ, maka tandanya adalah hadzfun nun menghapus huruf nun yang berada di akhir kata. Pada contoh ketiga af’alul khomsah يَذْهَبَا beri’rab jazm karena bersambung dengan amil jazm yakni لَا, maka tandanya adalah hadzfun nun menghapus huruf nun yang berada di akhir kata. Agar lebih mudah dipahami, berikut ini saya akan berikan contoh cara mengi’rab af’alul khomsah الطَّالِبَانِ يَذْهَبَانِ إلَى الْمَدْرَسَةِ الطالبان مبتدأ مرفوع وعلامة رفعه الألف لانه من الإسم المثنى At thalibani mubtada’ marfu’ dan tandanya adalah alif karena ia isim mutsanna يذهبان فعل مضارع مرفوع لتجرده من الناصب والجازم وعلامة رفعه ثبوت النون والألف الإثنين مني على السكون في محل رفع فاعل Yadzhabani fi’il mudhori’ marfu’ karena kosong dari amil nashob dan amil jazm, tandanya adalah tsubutun nun, dan alif tasniyah mabni alas sukun menempati tempatnya rafa’ sebagai fa’il. إلى حرف الجر مبني على السكون Ilaa huruf jar mabni alas sukun المدرسة اسم المجرور مجرور وعلامة جره الكسرة Al madrosati isim majrur, beri’rab jar dan tandanya adalah kasroh. Cukup sekian pembahasan tentang af’alul khomsah, semoga bisa dipahami dan bermanfaat bagi segenap pembaca semua.
contoh af al allah